-> Ketua (DIVISI : PERENCANAAN, UMUM RUMAH TANGGA, DAN PENYELENGGARA PENCALONAN)

jadiSelalu berusaha adil. Itulah sikap yang senantiasa dijunjung tinggi Mahmudi, S.Ag, M.Fil.I.Pria kelahiran Demak, 20 Juli 1973 yang saat ini menjabat sebagai Ketua KPU Kabupaten Demak itu selalu berusaha menerapkan prinsip tersebut dalam menjalani kehidupan. Baik dalam lingkup keluarga, masyarakat maupun dalam lingkungan kerja.

Sebagai seorang leader, menurutnya sikap tersebut akan memberikan pengaruh besar terhadap keharmonis hubungan dalam suatu komunitas.  Karena, adil adalah suatu harmonisasi. Adil merupakan suatu sikap yang tidak memihak atau sama rata, tidak ada yang lebih dan
tidak ada yang kurang, tidak ada pilih kasih, tidak ada yang dianak emaskan dan tidak ada yang dianak tirikan.  Jika bisa bertindak adil, maka tidak akan ada yang merasa tersakiti. “Saya pribadi kalau mendapat perlakuan tidak adil merasa kecewa. Karena itu saya akan berusaha berlaku adil,” tuturnya.

Prinsip keadilan yang dijunjung Ayah dari Alwies dan Filo Itu, selaras dengan tanggungjawabnya sebagai Penyelenggara Pemilu. Karena dalam kode etik Penyelenggara Pemilu ada pasal yang mengatur bahwa Penyelenggara Pemilu harus bersifat  jujur, adil, transparan, akuntabel, dan responsibel.  Untuk itu, sebagai Penyelenggara Pemilu dia dituntut bersikap adil dan tidak berat sebelah terhadap peserta pemilu.

Kepatuhan terhadap kode etik tersebut tentu bukan hal sulit. Karena hal tersebut sudah melekat pada dirinya, meski belum menjabat sebagai Penyelenggara Pemilu. Suami dari Nuryatun yang pada periode sebelumnya juga menjabat sebagai Anggota KPU Kabupaten Demak itu berharap sikap yang dijunjungnya tersebut akan mampu mengantarkan kesuksesan pelaksanaan Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD yang akan dihelat 9 April 2014 mendatang dan pemilu-pemilu berikutnya. “Saya juga berharap dengan berlaku adil, kebersamaan antar rekan kerja semakin erat sehingga kinerja dapat semakin meningkat. Begitu pula saya berharap hubungan keluarga juga semakin harmonis,” jelas pria yang tidak mau poligami itu karena takut tidak bisa berlaku adil jika memiliki beberapa istri. (*)